HERBARIUM  CELEBENSE (CEB)

 

            Indonesia merupakan salah negara di dunia yang mendapat julukan sebagai “Megabiodiversity Countries”  karena memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Keanekaragaman hayati yang dimiliki Indonesia ini tersebar di dalam wilayah nagara kesatuan Republik Indonesia.

with Chien Lee, from Herbarium Serawak

with Dr.Chien Lee, from Herbarium Serawak

Sulawesi merupakan salah satu pulau besar dan penting di Indonesia, karena secara biogeografi termasuk dalam kawasan Wallacea, suatu kawasan yang terdiri atas pulau Sulawesi, sebagian Maluku, kepulauan Banda, dan kepulauan Nusa Tenggara Barat, dengan luas keseluruhan sekitar 346.782 km2. Wilayah ini sangat unik karena merupakan tempat bercampurnya tumbuhan, hewan, dan hidupan lain dari Asia dan Australia, serta merupakan kawasan peralihan ekologi (ekoton) antara kedua benua tersebut (Mittermeier et al., 1999).

Kawasan ini dinamakan Wallacea, merujuk nama Alfred Russel Wallace, seorang penjelajah alam dari Inggris yang pada tahun 1850-an melakukan ekspedisi di kawasan ini. Hasil penelitiannya dipublikasikan dalam buku The Malay Archipelago yang menyimpulkan bahwa flora dan fauna di kawasan ini banyak yang unik dan spesifik, serta mempunyai biogeografi tersendiri yang berbeda dengan bagian barat dan timur Indonesia. Karena hasil pemikirannya ini, Alfred Russel Wallacea dikenal sebagai Bapak Biogeografi, studi tentang persebaran geografi tumbuhan dan hewan (Whitten et al., 1987; Kinnaird, 1997; Mittermeier et al., 1999).

Sulawesi memiliki keanekaragaman hayati dengan tingkat endemisitas yang tinggi. Diperkirakan 15% dari tumbuhan berbunga di Sulawesi adalah endemik (Whitten et al. 1987 : Ramadhanil Pitopang, 2006). Van Balgooy et al. (1996) melaporkan  933 tumbuhan asli dari Sulawesi dimana  112 adalah endemik Sulawesi.  Endemisitas tumbuhan berbunga di Sulawesi sangat bervariasi diantara kelompok takson,  Sebagai contoh pada Palm (Arecaceae) dan Anggrek (Orchidaceae)  dari total 817 spesies anggrek dari Sulawesi dan Maluku (128 genera)  149 merupakan endemik  (Thomas and Schuiteman 2002).

Menurut Mogea (2002) Sulawesi memiliki tingkat endemisitas palem yang tinggi (72%), dimana 68% spesies dan 58% genus palem yang tumbuh di bioregion ini adalah asli Sulawesi. Di antara jenis-jenis palem yang ada dua di antaranya endemik untuk Sulawesi Tengah, yaitu Gronophyllum sarasinorum dan Pinanga sp. nov (longirachilla). Beberapa spesies palem Sulawesi lainnya yang endemik adalah Pigafetta elata Becc., Licuala celebica Miq., serta beberapa spesies rotan seperti taimanu (Korthalsia celebica), tohiti (Calamus inops Becc. ex. celebicus Becc.), batang (Calamus zollingerii Becc), Calamus minahassae, dan lain-lain

Sulawesi memiliki luas daratan sekitar 182.870 km2, tetapi studi keanekaragaman dan kekayaan jenis floranya masih sangat terbatas. Dibandingkan dengan pulau-pulau utama lainnya di Indonesia, jumlah spesimen tumbuhan (herbarium) yang telah dikoleksi dari pulau Sulawesi masih sangat sedikit kira-kira 23 spesimen per 100 km2, sedangkan di Pulau Jawa jumlah spesimen yang terkumpul jauh di atasnya (Whitten et al., 1987). Steenis (1950, dalam Keßler et al., 2002) mencatat sebanyak 32.500 spesimen tumbuhan telah dikoleksi dari pulau Sulawesi, tetapi jumlah tersebut masih merupakan perkiraan kasar, karena pada saat itu data-data yang ada belum dibuat pangkalan data (database)-nya.

Sampai saat ini belum ada petunjuk/pedoman yang komprehensif tentang keanekaragaman jenis pohon di hutan-hutan Sulawesi, kecuali beberapa “checklist”  (Whitmore et al. 1989; Keßler et al., 2002) dan beberapa familia yang sudah dicatat pada Flora Malesiana. Flora Indonesia khususnya dari Sulawesi masih sangat sedikit diketahui (Bass et al., 1990), sampai sekarang kurang dari 20% total flora Indonesia dari Sulawesi yang tercatat dalam Flora Malesiana (Veldkamp et al., 1997), karena kurangnya studi dan ekspedisi botani di kawasan ini. Sebagai perbandingan, jumlah ekspedisi botani di Sumatera 20 kali lebih banyak daripada di Sulawesi (Hamman et al. 1999). Jarangnya ekspedisi botani di Sulawesi, berdampak pada sedikitnya publikasi mengenai flora di kawasan ini. Hal ini berbeda dengan informasi dan publikasi flora dari pulau Kalimantan, Jawa, Sumatera, dan Papua yang relatif cukup lengkap.

Sampai saat ini baru terdapat beberapa publikasi yang menyangkut flora Sulawesi seperti: Daftar Nama Pohon-pohonan Selebes (Hildebran, 1950), Daftar Nama Pohon-Pohonan, Repisi I Sulawesi Selatan, Tenggara dan Sekitarnya (Soewanda dan Tantra, 1972), Tree Flora of Indonesia, Checklist for Sulawesi (Whitmore, 1989), The Ecology of Sulawesi (Whitten et al., 1987) dan Laporan Perjalanan ke Sulawesi Tengah (Asikin et al., 2000). Pada tahun 2002 tercatat tiga publikasi yang menyangkut flora dari kawasan ini yaitu Ckecklist of Woody Plants of Sulawesi (Keßler et al., 2002), The Unique, Rare and Endemics Flora of Sulawesi (Yuzammi dan Hidayat, 2002), The Orchids of Sulawesi and Maluku: a Preliminary Cataloque (Thomas dan Schuiteman, 2002). Pada tahun 2009 ini Ramadhanil Pitopang, Aiyen Tjoa, Ismet Khaeruddin dan I. Burhanuddin serta Van Balgooy (editor) telah pula mempersiapkan sebuah buku tentang keanekaragaman jenis pohon-pohon yang umum di Sulawesi yang merupakan salah satu publikasi yang diterbitkan atas kerja sama Herbarium Celebense UNTAD dan National Herbarium of Netherland, Belanda. Buku yang menyangkut  pohon-pohon penting di Sulawesi baik dari segi konservasi, ekonomi dan umum  ini berisikan deskripsi, nama lokal, distribusi, kegunaan tradisional serta gambar-gambar berwarna yang sangat komunikatif sehingga diharapkan bermanfaat untuk mahasiswa, pelajar, serta siapa saja yang berkerja dalama bidang konservasi keanekaragaman hayati.  

Disisi lain, pulau yang berbentuk unik ini masih diselimuti oleh hutan tropik yang kelestariannya akhir-akhir ini menghadapi ancaman yang serius dari  aktivitas manusia melalui konversi hutan menjadi lahan perkebunan, pertambangan, pembalakan liar, dan perburuan sehingga dikhawatirkan kelestarian keanekaragaman hayatinya  akan terganggu dan dikhawatirkan akan menuju kepunahan.  Berdasarkan pemetaan terakhir terhadap tutupan kanopi hutan di Indonesia, Ministry of Forestry (MOF) mengatakan bahwa laju “deforestation” di Indonesia diperkirakan berlipat ganda antara tahun 1985 dan 1997, dari kurang dari 1 (satu) juta ha hingga 1,7 juta ha tiap tahun, dimana Sulawesi kehilangan 20% dari hutannya dalam periode ini (Holmes 2002).

Untuk melakukan penelitian yang lebih mendalam terhadap keanekaragaman jenis tumbuhan di Sulawesi ataupun di Wallacea umumnya,  harus ditunjang oleh keberadaan Herbarium sebagai fasilitas yang sangat penting dalam menunjang proses pendidikan dan penelitian serta pengabdian pada masyarakat. Disamping itu keberadaan koleksi hidup (“living material”) yang ditata dalam taman botani merupakan salah bentuk konservasi eksitu yang juga sangat diperlukan sehingga  tantangan untuk  menggali dan meneliti keanekaragaman spesies dan kedudukan taksonomi tumbuhan dari pulau terpenting di bioregion Wallacea ini, menjadi dapat terwujud, sehingga melalui pengemangan herbarium Celebense ini diharapkan akan menjadi salah satu “Center of Excellent” Unversitas Tadulako dei bidang pendidikan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat.  

 

 

III.  SEKILAS TENTANG HERBARIUM CELEBENSE 

UNIVERSITAS TADULAKO

 

Herbarium merupakan istilah yang pertama kali digunakan oleh Turnefor (1700) untuk tumbuhan obat yang dikeringkan sebagai koleksi. Luca Ghini (1490-1550) seorang Professor Botani di Universitas Bologna, Italia adalah orang pertama yang mengeringkan tumbuhan di bawah tekanan dan melekatkannya di atas kertas serta mencatatnya sebagai koleksi ilmiah (Arber, 1938). Pada awalnya banyak spesimen herbarium disimpan di dalam buku sebagai koleksi pribadi tetapi pada abad ke-17 praktek ini telah berkembang dan menyebar di Eropa. Karl von Linné (1707-1778) adalah orang berjasa mengembangkan teknik herbarium (de Wolf, 1968 dan Radford et al., 1974 dalam Bridson dan Forman, 1998). Pada saat ini istilah herbarium digunakan pula untuk menamai lembaga yang mengelola koleksi spesimen tumbuhan, mempelajari keanekaragam spesies tumbuhan dan kedudukan taksonominya, serta membuat pangkalan datanya secara komputerisasi.

Pada tahun 1999 telah didirikan sebuah herbarium di Universitas Tadulako Palu dengan nama Herbarium Celebense (CEB), Herbarium ini didirikan atas dukungan STORMA (Stability of Rain Forest Margin) sebuah proyek kerjasama penelitian antara 3 universitas, yaitu Universitas Göttingen dari Jerman, serta Universitas Tadulako dan Institut Pertanian Bogor dari Indonesia. Pendirian dan pengembangan lembaga ini telah melibatkan dan upaya dari beberapa taksonomist botani seperti: Prof. S. Robert Gradstein (Departement of Systematic Botany, Gõttingen, Germany), Dr. Paul J.A. Keßler ( Nationaal Herbarium Nederland, Universiteit Leiden, Nederlands), Dr. Johanis P. Mogea, LIPI-Indonesia), Prof. Dr. Edi Guhardja, M.Sc  dan Dr. Sri S. Tjitrosudirdjo (IPB Bogor). Selama perkembangannya CEB juga menjalin kerjasama dengan beberapa herbarium baik dari dalam maupun luar negeri, seperti Herbarium Bogoriense (BO), Herbarium Biotrop (BIOT), Herbarium Göttingen (GOET), National Herbarium of the Netherlands di Leiden (L), Herbarium Wanariset (WAN), Herbarium Universitas Andalas (ANDA) dan National Herbarium of Australia di Canberra. Kehadiran herbarium ini di kawasan Sulawesi sangat penting untuk mempelajari dan mengkoleksi seluruh spesimen tumbuhan dari Indonesia, khususnya flora wallacea. Pada tahun 2002 Herbarium Celebense telah terdaftar secara resmi dalam International Index Herbariorum (New York) dengan akronim CEB. Pada saat ini CEB telah aktif melakukan koleksi botani dan menyimpan lebih dari 12.000 spesimen tumbuhan Sulawesi yang didatabasekan dalam BRAHM SYSTEM. Di antara koleksi terdapat juga “Specimen Type” yang pertama sekali di deskripsi dari Sulawesi (Jenis baru). Kebanyakan spesimen herbarium tersebut terdiri atas tumbuhan tingkat tinggi (spermatophyta) yang tergolong ke dalam dikotiledon seperti pohon dan Monokotiledon (rotan, anggrek, dan rumput) serta beberapa merupakan tumbuhan tingkat rendah yang terdiri dari  paku-pakuan dan lumut (Bryophyta) (Ramadanil Pitopang, 2006).

Advertisements